IDEN
KNEKS Dukung Kampus Merdeka, Begini Tindakan Nyatanya
24 Juli 2020

Jakarta, KNEKS - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendukung kebijakan Kampus Merdeka yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Manajemen Eksekutif KNEKS Sutan Emir Hidayat menyampaikan bentuk dukungan KNEKS untuk kebijakan Kampus Merdeka diantaranya dalam aspek Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T), pertukaran pelajar, dan praktik magang.

KNEKS bersama stakeholders menyusun implementasi KKN-T Ekonomi Syariah. Adapun dalam panduan tersebut jika dibandingkan dengan panduan KKN-T Kampus Merdeka terdapat banyak keselarasan dari segi objektif panduan.

“Contoh kesamaan itu antara lain, dalam KKN-T Ekonomi Syariah dijelaskan mahasiswa mampu menelaah dan memecahkan masalah yang ada di desa berdasarkan keilmuan mengenai ekonomi syariah,” ujar Emir, dalam webinar Kurikulum FEBI Menuju Era Kampus Merdeka, Selasa (21/7).

Hal serupa juga ada dalam KKN-T Kampus Merdeka, yang menyebutkan, tujuan KKN-T Kampus Merdeka agar mahasiswa mampu melihat potensi desa, mengidentifikasi masalah dan mencari solusi untuk meningkatkan potensi dan menjadi desa mandiri.

Selain satu contoh itu, Emir menerangkan masih banyak keselarasan lainnya antara KKN-T Ekonomi Syariah dan KKN-T Kampus Merdeka.

Kemudian terkait aspek pertukaran pelajar, bisa dilihat dalam bentuk kerangka acuan minimal kurikulum yang dibuat KNEKS bersama stakeholders. Kurikulum yang diperuntukkan untuk program studi (Prodi) S1 Ekonomi Syariah ini bisa mempermudah pertukaran pelajar.

10 perguruan tinggi terlibat dalam penyusunan kurikulum yang digagas KNEKS, hasilnya disepakati ada 10 mata kuliah inti yang merupakan mata kuliah mayor Prodi Ekonomi Syariah. Emir menjelaskan, dengan 10 mata kuliah tersebut, berarti ada kesamaan antar perguruan tinggi di Indonesia untuk Prodi Ekonomi Syariah. Pertukaran pelajar antar kampus pun menjadi memungkinkan.

Sebagai penjelas, diilustrasikan dengan mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah asal Aceh yang berkuliah di Jakarta. Dalam keadaan mendesak, karena harus menemani keluarganya yang sudah tua, ia terpaksa kembali ke Aceh. Meski begitu, mahasiswa ini tidak perlu khawatir akan kelanjutan kuliahnya, ia tetap bisa melanjutkan kuliah Prodi Ekonomi Syariah di kampus yang berada di Aceh, karena sudah adanya kesamaan kurikulum antar kampus.

Emir bersyukur, sudah ada sekitar 40 kampus menerapkan kurikulum ekonomi syariah yang diinisiasi KNEKS ini. “Lalu, kami sedang menyusun terkait praktik magang atau praktik kerja, bersama stakeholders termasuk Afebis (Asosiasi Fakultas Ekonomi Islam Se-Indonesia),” imbuh Emir

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengembangan Akademik Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Mamat S. Burhanuddin mengatakan untuk merealisasikan kebijakan Kampus Merdeka, ada beberapa langkah yang harus di tempuh perguruan tinggi.

“Langkah itu diantaranya menyusun kebijakan atau pedoman akademik untuk memfasilitasi pembelajaran di luar Prodi. Kemudian, membuat dokumen kerja sama (Mou/SPK) dengan mitra,” jelas Mamat.

Bagi Prodi, langkah yang mesti dilakukan antara lain menyusun atau menyesuaikan kurikulum dengan model implementasi Kampus Merdeka. Lalu, memfasilitasi mahasiswa yang akan mengambil pembelajaran lintas Prodi dalam perguruan tinggi. Serta, menawarkan mata kuliah yang bisa diambil oleh mahasiswa di luar Prodi dan luar perguruan tinggi beserta persyaratannya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Afebis Ahmad Wira mengungkapkan pentingnya kolaborasi. “Kita tidak bisa besar sendiri, tidak bisa bekerja sendiri, kita mesti berkolaborasi saling menguatkan, karena saya yakin masing-masing (kampus) punya kekuatan masing-masing. Sehingga ini lah yang kita coba satukan, terutama dalam menghadapi kebijakan pemerintah untuk Kampus Merdeka,” tambahnya.

Senada dengan itu, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Mujiburrahman mengungkapkan perubahan zaman berkaitan dengan integrasi ilmu. Itu juga sebagai ciri khas kampus UIN yang ada di Indonesia.

“Integrasi ilmu yang kita ingin kan itu adalah ilmu pengetahuan yang saling melengkapi satu sama lain. Jadi bukan dihilangkan, tapi ilmu yang saling menyapa sehingga saling memperkaya satu sama lain,” tandas Mujiburrahman.

Penulis: Aldi, Andika, Annisa
Redaktur Pelaksana: Iqbal

Berita Lainnya