IDEN
Dorong Riset Ekonomi Syariah, KNEKS Usulkan Riset Pangan dan Sosial Humaniora
10 Juli 2020

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendorong terciptanya link and match antar pemangku kebijakan dengan industri ekonomi dan keuangan syariah lewat riset. Untuk itu, diperlukan penentuan tema-tema riset strategis yang dapat mendukung pertumbuhan industri ekonomi syariah yang selaras dengan misi pembangunan nasional.

Direktur Bidang Infrastruktur Ekosistem Syariah, Manajemen Eksekutif, KNEKS Sutan Emir Hidayat mengungkapkan dari analisis KNEKS yang masih terus berjalan, ditemukan dua tema yang bisa dijadikan fokus riset yaitu terkait pangan dan sosial humaniora.

Tema itu didapat dari penyelarasan antara tema riset ekonomi dan keuangan syariah dengan Prioritas Riset Nasional (PRN). Dari sembilan bidang riset Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017-2045, yang kemudian fokus bidang diturunkan untuk tahun 2020-2024. Dari situlah didapatkan tema riset pangan dan sosial humaniora.

“Ini sangat selaras dengan riset ekonomi dan keuangan syariah, pangan dan sosial humaniora,” ujar Emir, dalam acara Tata Kelola Jurnal dan Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Selasa (7/7).

Dari tema pangan, Emir menjelaskan, berkaitan dengan riset bahan substitusi non halal berbasis lokal (non-impor). Contohnya, dari segi perasa dan pewarna makanan. Sebagian diperkirakan masih impor dan belum ada sertifikasi halalnya.

Lalu, bisa memunculkan obat berbahan gelatin halal yang tidak perlu impor. Terlebih dari pandemi Covid-19 menunjukan pentingnya ketahanan pangan dalam negeri. Untuk itu, riset ini perlu didukung.

Sementara itu, Emir menambahkan, tema sosial humaniora berkaitan dengan dana sosial keagamaan, keuangan inklusif, dan ekonomi digital. “Ketika pandemi ini juga menunjukan ekonomi digital berperan penting agar perekonomian negara semakin berjalan,” terangnya.

Diharapkan dengan dua tema riset ini, dapat diserap industri dan bisa dijadikan acuan dalam pembuatan kebijakan.

Salah satu bentuk riset adalah menghasilkan jurnal ilmiah. Dari jurnal itu, tema utama riset ekonomi dan keuangan syariah saat ini lebih terkonsentrasi di sektor perbankan syariah. Emir berharap ke depannya, tema riset lebih beragam.

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia Jaka Sriyana mengungkapkan dalam mengelola jurnal terdapat dua fokus. Pertama adalah manajemen penerbitan. Tujuannya untuk menciptakan dan mengembangkan internasional visibilitas.

Kemudian yang kedua yakni substansi artikel. Perihal ini, kerap kali ditemukan dalam proses akreditasinya, jurnal yang diajukan tidak bisa menampilkan bukti substansi ilmiah. Penulis atau editor belum mampu menggunakan kalimat yang baik, khususnya pada bagian pembahasan dan kesimpulan.

“Jadi, kalau dua hal ini terpenuhi, kita bisa mengajukan dan menjadikan jurnal bereputasi internasional,” imbuh Jaka.

Sementara itu, Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala M. Shabri Abd. Majid memberikan tips agar riset bisa diterima. Pertama, dengan merancang suatu penelitian yang baik (sudah direncanakan ke jurnal internasional).

Kedua, Memilih jurnal yang sesuai. Maka dari itu perlu menjadi beberapa catatan, seperti melihat tren judul dalam lima tahun terakhir, mulailah dengan jurnal kelas tertinggi (bagi yang sudah berpengalaman), sementara untuk pemula mulai dari kelas bawah, pertimbangkan juga lamanya proses tinjauan, ada tidaknya fee, dan aksesbilitas.

Ketiga, kutip sekurang-kurangnya satu publikasi dari jurnal yang bersangkutan. Keempat, usulkan pengulas yang mempunyai paper sejenis, kalau dapat yang sudah pernah berkomunikasi /diskusi dan namanya dalam kutipan kita (jika diminta)

Kelima, jika paper ditolak, perbaiki sesuai masukan atau kritikan dari pengulas dan submit ke jurnal lain yang selevel. Keenam, jika ditolak, perbaiki lagi dan coba turun kelas.

Ketujuh, Pertimbangkan nama editor jurnal dan penulis yang artikelnya pernah terbit di jurnal tersebut. Kedelapan, mendapatkan Research grant. Kesembilan, draf awal sudah dipresentasikan di konferensi.

“Jumlah artikel yang ditolak lebih banyak dibanding yang diterima, jadi Anda tidak sendiri, dan Anda kaum mayoritas. Jika artikel ditolak, jangan patah semangat manfaatkan kritikan, komentar reviewer untuk memperbaiki kualitas artikel dan kirim ke tempat lain,” pungkas Shabri.

Berita Lainnya