IDEN
KNEKS Dorong Traceability Produk Halal dengan Blockchain
03 Juli 2020

Jakarta, KNEKS - Blockchain menawarkan kemampuan ketelusuran produk halal yang aman bagi para kustomer. Didukung dengan sistem desentralisasi server yang terenskripsi oleh banyak user sehingga blockchain bersifat transparan.

Blockchain adalah teknologi peer to peer yang terdesentralisasi dengan beberapa server, seperti buku catatan besar berisi data-data yang di pegang oleh beberapa orang dan dapat diakses oleh semua orang.

Hal itu dijelaskan Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia Oham Dunggio dalam webinar yang mengulas Will Blockchain Revolutionize the Halal Industry? Kamis (25/6). Webinar ini diselenggarakan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Indonesia Blockchain Hub, Asosiasi Blockchain Indonesia, Shierad Produce, Dattabot, dan Hara.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar mengatakan pemanfaatan instrument digital menjadi salah satu strategi utama KNEKS.

“Teknologi blockchain akan bercerita tentang rantai nilai halal, yaitu serangkaian proses pengolahan barang mentah, produk antara, menjadi produk akhir yang mencakup kegiatan produksi, distribusi sampai berada di tangan konsumen. Dengan kemampuan teknologi ini, dapat mempermudah dan mempercepat proses sertifikasi halal. Hal ini sangat mendukung bagi keberlangsungan ekosistem industri halal,” ujar Afdhal

Afdhal menambahkan, Indonesia berpotensi menjadi rujukan dunia untuk produk halal. Mulai dari Indonesia, kita bisa perkuat sistem traceability produk halal dan membanjiri dunia dengan raw material, produk antara, maupun produk jadi berasal dari Indonesia. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi Global Hub Ekonomi Syariah dunia di tahun 2024.

“Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan hayati yang melimpah, dan 87% masyarakatnya muslim. Bukan hal yang mustahil cita-cita ini akan tercapai,” tambahnya.

Sebagai pionir halal blockchain, PT. Sierad Produce menggunakan teknologi blockchain untuk memberikan trust kepada kustomer. Contoh potong ayam boiler dari proses peternakan sampai pemotongannya terekam dalam blockchain. Hal ini disampaikan oleh Direktur Manager Food Sierad Produce Dicky Saelan

“Memudahkan bagi kustomer untuk melacak tahapan-tahapannya, sehingga dari transparansi ini menjadi kepercayaan,” kata Dicky.

Ia melanjutkan, sebagai pengusaha harus dapat melihat peluang-peluang yang ada. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim adalah pangsa pasar terbesar. Maka dari itu diperlukan inovasi-inovasi yang mendukung kemajuan industri halal Indonesia, khususnya pemanfaatan teknologi.

“Kalau kita ingin bersaing di pasar global dengan mengandalkan harga saja saya agak pesimis, seharusnya Indonesia sebagai negara muslim terbesar dengan potensi dan inovasi yang dimiliki harus berada di depan dalam pengembangan industri halal,” jelas Dicky.

Senada, Co-Founder dan CTO Dattabot dan Hara Imron Zuhri mengatakan kehadiran blockchain di Indonesia tergolong cukup baru, sehingga sosialisasi manfaat dari blockchain harus ditingkatkan. Ia juga menyarankan bagi pengusaha yang ingin menggunakan teknologi blockchain niatkan untuk memperbaiki proses bisnis.

“Awalnya kami menggunakan blockchain untuk mendata para petani, seiring berjalan kami terus mengembangkan interface berupa modul-modul yang terintegrasi di blockchain, agar memudahkan traceability produk,” pungkasnya

Penulis: Andika, Aldi, Khairana, Azuma
Redaktur Pelaksana: Achmad Iqbal

Berita Lainnya