IDEN
Ini Strategi Industri Pariwisata Halal Agar Bisa Bertahan Saat Pandemi
03 Juli 2020

Jakarta, KNEKS - Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19, tidak terkecuali industri pariwisata halal. Meski begitu, sebagai seorang muslim tetap harus optimis bahwa pariwisata halal mampu bangkit.

Demikian disampaikan Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Riyanto Sofyan. Untuk pariwisata halal, ia memaparkan strategi agar industri pariwisata halal mampu bertahan saat situasi pandemi.

Diantaranya adalah overhaul business model. Bongkar pasang bisnis model perlu dilakukan pelaku pariwisata. Ia menyampaikan, dalam bisnis pariwisata masih bisa dikatakan berjalan meski dalam keadaan rugi, tapi bisnis pariwisata bisa dikatakan mati kalau arus kasnya macet.

“Di pariwisata yang paling utama adalah manajemen arus kas. Caranya otomatis kita harus merestruktur biaya yang ada, karena sekarang ini, kalau meminta pinjaman tambahan tidak akan mungkin,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT. Sofyan Hotels Tbk ini, dalam Webinar yang diselenggarakan KNEKS bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Advokasi Halal (Pusjilal), Sabtu (27/6).

Ia menjelaskan, skema kemitraan pelaku pariwisata harus dijalankan agar pariwisata mempunyai nafas yang lebih panjang dengan arus kas yang terbatas. Kondisi di lapangan menunjukan, sebagian industri pariwisata mau tidak mau ada yang beralih usaha, apapun dikerjakan. Contohnya beralih usaha menjadi penjual sembako.

Strategi selanjutnya, untuk pariwisata saat ini adalah pembuatan safe protocol, sesuatu yang memerlukan biaya tambahan tapi mesti dilakukan.

Kemudian, strateginya selanjutnya yakni inovasi dan kreativitas. Industri pariwisata memiliki tantangan tersendiri dibanding industri yang lain. Pariwisata tidak menjual produk atau jasa yang bisa diantar kurir, tetapi yang dijual pariwisata ialah pengalaman dan hal itu diperoleh dengan mengunjunginya secara langsung. Untuk itu, inovasi dan kreativitas yang dilakukan dalam hal ini sangat diperlukan.

Riyanto mengusulkan inovasi dan kreativitas itu bisa dengan menyediakan perjalanan wisata ke alam, ke tempat yang jaraknya dekat atau daerah domestik yang bisa dikembangkan sedemikian rupa. Jadi, semua yang terkait dengan pariwisata bisa tetap berjalan.

Strategi yang lain adalah kembangkan digital. Memudahkan pelayanan turis dengan digital. Prosedur-prosedur pariwisata bisa dijangkau secara digital.Selanjutnya, strategi yang tidak kalah penting menurut Riyanto adalah mitigasi jika gelombang kedua pandemi Covid-19 terjadi. Serta, mitigasi bencana alam juga diperlukan.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar menambahkan dalam gaya hidup berwisata, turis ingin mendapatkan layanan yang sesuai dengan keyakinannya.

“Bukan berarti ingin melakukan Islamisasi dari suatu destinasi, tapi bagaimana kita memandu turis muslim, apakah dia turis muslim dari dalam negeri atau pun dari luar negeri, pada saat mereka datang ke destinasi yang ada di Indonesia, mereka bisa terlayani kebutuhannya, baik makanan dan tempat ibadahnya,” tutur Afdhal.

Ia menambahkan, konsep pariwisata halal bersifat inklusif, yakni  kesiapan infrastruktur wisata yang ditujukan untuk memandu wisatawan muslim juga dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh semua golongan wisatawan. Jadi inklusif dan tidak hanya untuk muslim saja.

Para wisatawan ternyata sangat mengapresiasi konsep wisata yg menyajikan atraksi yang ramah keluarga dan tersedianya makanan halal yang sehat dan higienis. Trend ini terus berkembang tidak hanya di Indonesia namun juga di banyak negara di dunia

Afdhal mengungkapkan sektor pariwisata menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dikembangkan, karena sektor ini menjadi kontributor dan suatu bagian yang besar untuk pengembangan ekonomi Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama PT. Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat mengatakan ada nilai-nilai penting yang diterapkan Paragon untuk bisa sukses seperti sekarang ini.

“Diantaranya adalah ketuhanan, ini merupakan faktor yang pertama. Kemudian kepedulian, dengan menerapkan kepedulian bisa membangkitkan semangat, lalu nilai kesederhanaan untuk menghindari kesombongan, selanjutnya ketangguhan dan inovasi,” pungkas Nurhayati.

Penulis: Andika, Aldi, Ishmah, Khairana
Redaktur Pelaksana: Achmad Iqbal

Berita Lainnya