IDEN
Sepakat! Manusia Sentris sebagai Tujuan Ekonomi
11 Juni 2020

Jakarta, KNEKS - Tujuan dari ekonomi syariah yang tertuang dalam maqasid syariah adalah menjadikan manusia sebagai subjek serta objek dari kegiatan ekonomi, yang biasa disebut manusia sentris (human centric).

Direktur Keuangan Inklusif Dana Sosial Keagamaan dan Keuangan Mikro Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Ahmad Juwaini dalam sambutan pembuka menyatakan, Islam mengajarkan pemeluknya untuk mencegah kerusakan dahulu daripada meraih kebaikan, terutama ketika Pandemi Covid-19 yang membawa dampak di berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi. Acara ini bertujuan untuk melihat bagaimana sektor ekonomi dapat dilayani dan didukung lebih baik daripada sebelumnya. Rabu (3/6)

Hal senada juga disampaikan Chairman of Strategic Concepts Sean Celarly, sejarah menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi global terpengaruh dari romantisme masa lalu yang memuji kesempurnaan ekonomi dan demokrasi liberal. Pemikiran inilah yang juga diadopsi Amerika Serikat sejak akhir tahun 1970-an.

Puncaknya ketika krisis Asia tahun 1997 sampai pada peristiwa 11 September 2001, Amerika Serikat mencetak banyak uang untuk memulihkan kegiatan ekonomi dan mendorong turunnya suku bunga. Perkembangan instrumen derivatif sampai 23 kali lebih banyak. Tetapi alhasil tahun 2019 pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 3%.

“Kejadian ini jauh sebelum Covid-19 datang, penyebabnya adalah kegiatan ekonomi tidak berorientasi kepada kesejahteraan manusia,” ujar Sean yang juga dosen di berbagai universitas ternama di dunia.  

Lebih lanjut dalam webinar yang diselenggarakan KNEKS, Ikatan Ahli Ekonomi Islam, Universitas Medan Area, dan Responsible Finance and Investment Foundation, Misha Kanoo menyampaikan stabilitas ekonomi dapat tercapai dengan melakukan kreasi-kreasi yang human centric oriented sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahualaihi Wassalaam dan dicontohkan para sahabat. “Saya tidak memikirkan keberlangsungan bisnis keluarga saya, tetapi yang saya pikirkan adalah orang-orang yang bekerja dan berinteraksi dengan saya,” ujar Chairman Kanoo Group tersebut.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Divisi Keuangan Inklusif Syariah KNEKS Jamil Abbas menjelaskan bahwa Indonesia dengan predikat populasi umat muslim terbesar di dunia memiliki model keuangan mikro yang unik disebut Baitul Mal wat Tamwil (BMT).

Lembaga keuangan mikro syariah yang menggabungkan dua aspek yakni aspek komersial dan juga aspek sosial dalam kegiatan operasionalnya.

“Skema BMT sudah ada lebih kurang 25 tahun di Indonesia, dengan segala kemampuan dimiliki dan kendala yang dihadapinya alhamdulillah dapat mengakomodir apa yang diperlukan masyarakat khususnya pelaku usaha kecil, dengan bermotokan fokus pada orang bukan pada uang,” jelas Jamil.

International Webinar Seri ketiga ini mengangkat judul Rewiring Finance for Serving the Real Economy: Can Covid Open the Door to a New Human Centric Economy, dengan menghadirkan pembicara dari berbagai sektor dan beberapa negara.

Penulis: Andika, Aldi, Annisa, Yodi
Redaktur Pelaksana: Achmad Iqbal

Berita Lainnya